top of page

Sagea dan Boki Maruru

  • 13 Des 2025
  • 3 menit membaca

Sagea tidak berdiri sebagai satu entitas tunggal. Ia adalah pertemuan antara air, batu, hutan, dan manusia. Kampung Sagea tumbuh di sekitar sungai yang mengalir tenang namun menentukan ritme hidup masyarakatnya. Sungai Sagea bukan sekadar bentang alam, melainkan poros kehidupan yang menghubungkan ruang domestik, aktivitas ekonomi, dan ingatan kolektif warga dari generasi ke generasi.

Bagi masyarakat Sagea, sungai adalah ruang sosial terbuka. Di sanalah anak-anak belajar berenang, orang dewasa mencuci hasil kebun, dan cerita-cerita lama mengalir bersama arus air. Sungai juga menjadi jalur penghubung antara kampung dan wilayah hutan di sekitarnya, tempat masyarakat mencari kayu, rotan, dan bahan pangan tambahan. Dalam konteks ini, Sungai Sagea berfungsi sebagai ruang transisi—menghubungkan dunia kampung dan dunia rimba—yang mencerminkan cara hidup masyarakat Halmahera Tengah yang selalu berada di antara darat dan air.


Masyarakat Sagea secara genealogis dan kultural terhubung dengan rumpun masyarakat Gam Range—khususnya Sawai dan Weda—meskipun dalam kehidupan sehari-hari identitas kampung tetap menjadi penanda utama. Struktur sosial di Sagea dibangun di atas relasi kekerabatan yang rapat, di mana ikatan keluarga besar lebih menentukan daripada pembagian administratif formal. Musyawarah kampung, kerja bersama, dan saling membantu dalam kegiatan kebun atau acara adat masih menjadi praktik sosial yang hidup, meskipun telah berhadapan dengan perubahan sosial dan ekonomi yang cepat di Halmahera Tengah.


Di sisi lain, lanskap Sagea tidak hanya diisi oleh sungai dan pemukiman, tetapi juga oleh ruang bawah tanah yang sarat makna: Goa Boki Maruru. Goa ini dikenal luas bukan hanya sebagai destinasi alam, tetapi sebagai situs yang menyimpan cerita lisan tentang masa lalu. Dalam penuturan masyarakat setempat, Boki Maruru sering dikaitkan dengan tokoh perempuan bangsawan (boki) dalam tradisi Maluku Utara, yang mengisyaratkan keterhubungan antara Sagea dan jaringan sejarah politik serta kosmologi Kesultanan di masa lampau.


Goa Boki Maruru bukan sekadar rongga batu. Ia adalah ruang yang diperlakukan dengan kehati-hatian. Beberapa bagian goa dipercaya memiliki pantangan tertentu, dan tidak semua aktivitas diperbolehkan dilakukan secara sembarangan. Stalaktit, stalagmit, dan aliran air di dalam goa dipahami sebagai bagian dari tubuh alam yang hidup, bukan objek mati. Cara masyarakat Sagea memaknai goa ini menunjukkan pandangan kosmologis yang melihat alam sebagai entitas yang memiliki agensi dan harus dihormati.


Dalam beberapa kajian arkeologi dan sejarah kawasan Halmahera Tengah, wilayah sekitar Sagea dipahami sebagai bagian dari lanskap hunian lama yang terhubung dengan situs-situs penting di Weda dan sekitarnya, termasuk kawasan Nusliko dan Gua Siti Nafisah. Meskipun Goa Boki Maruru belum diekskavasi secara intensif seperti gua-gua prasejarah lainnya, keberadaannya memperkuat indikasi bahwa kawasan ini sejak lama dihuni dan dimaknai secara berkelanjutan oleh manusia. Dengan kata lain, Sagea berada dalam lintasan panjang sejarah hunian, bukan ruang kosong yang baru ā€œditemukanā€.


Hari ini, Sagea berada dalam situasi ambivalen. Di satu sisi, sungai dan goa menjadi daya tarik wisata alam yang mulai dikenal luas. Di sisi lain, meningkatnya kunjungan membawa risiko terhadap keseimbangan ekologis dan nilai budaya lokal. Masyarakat Sagea berada di posisi kunci: mereka bukan hanya penjaga lanskap, tetapi juga penafsir utama makna Sagea itu sendiri. Cara mereka menegosiasikan pariwisata, konservasi, dan kehidupan sehari-hari akan menentukan apakah Sungai Sagea dan Goa Boki Maruru tetap menjadi ruang hidup, atau berubah menjadi sekadar objek konsumsi visual.


Dengan demikian, Sagea tidak dapat dipahami hanya sebagai kampung, sungai, atau goa. Ia adalah satu kesatuan lanskap budaya, tempat air, batu, dan manusia saling membentuk. Membaca Sagea berarti membaca hubungan yang terus bergerak antara alam dan masyarakat—hubungan yang tidak selalu tercatat dalam dokumen resmi, tetapi hidup dalam praktik sehari-hari dan cerita yang terus dituturkan.

Ā 
Ā 
Ā 

Komentar


JKH
BPK

Alamat Sekretariat:

Jl. Lintas Weda-Payahe, Desa Loiteglas, Weda, Halmahera Tengah

Ā© Copyright

© Copyright 2025 Jaringan Konservasi Halmahera (JKH) All rights reserved.

bottom of page